Bab Sebelumnya | Daftar Isi | Bab Selanjutnya
Bab 1: Reklamasi Lahan
Sebuah hari baru, di sebuah lahan yang luas, dimana langit cerah dan matahari bersinar dengan cemerlang.
Tiba-tiba sebuah objek berbentuk cincin muncul di langit seperti sihir dengan kecepatan tinggi, jatuh di puncak gunung dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding “wu wu wu”.
Berdasarkan ilmu fisika, ketika sebuah benda jatuh dari langit seharusnya muncul jejak asap diikuti dengan suara yang nyaring, seakan-akan ingin mengabarkan kedatangannya ke dunia.
Namun hal yang aneh terjadi pada benda tersebut, benda itu jatuh dengan suara yang tidak terlalu keras ke dalam tanah. Burung-burung yang sebelumnya terkejut, berputar mengitari puncak gunung itu sebelum akhirnya pergi tanpa jejak setelah tidak terjadi apapun. Tidak seorangpun sadar, tempat itu mendapatkan tambahan benda misterius.
Setelah bertahun-tahun berlalu, lahan kosong mulai dibudidayakan, samudra surut menjadi laut, gunung tempat benda misterius itu terkikis menjadi bukit. Banyak tempat yang sebelumnya terisolasi, berubah menjadi tempat yang cocok untuk ditinggali manusia. Kisah apa yang dibawa oleh cincin misterius ini? Zhang Xiaohua tersenyum dengan riang gembira, seakan mendapatkan rejeki yang jatuh dari langit, memandang lahan pertanian di depan matanya dan menganggapnya sebagai sepotong daging lezat berbumbu lima rempah.
(TN: bumbu lima rempah adalah campuran lima macam bumbu yang sering dipakai pada masakan Cina https://id.wikipedia.org/wiki/Bubuk_lima_rempah)
Sebenarnya lahan pertanian itu lebih cocok apabila disebut sebagai lahan kosong di atas bukit. Dan karena terletak di bukit yang rendah, lereng tempat lahan itu berada tidak curam. Lahan ini adalah hasil jerih payah ayah Zhang Xiaohua selama dua bulan terakhir.
Meskipun masih tersisa banyak lahan di area tempat tinggal Zhang Xiaohua, namun tidak banyak yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. Sehingga semua orang dari desa terus berpikir untuk membuka lahan pertanian baru untuk ditanami padi. Kebanyakan penduduk memilih lahan di sekitar sungai, namun dikarenakan keluarga Zhang Xiaohua terlalu miskin untuk menyogok tetua desa, mereka terpaksa memilih tempat yang lebih jauh.
Desa tempat tinggal Zhang Xiaohua bernama Desa Guo. Dengan luas area sebesar 4 li, diapit oleh pegunungan. Pegunungan itu tidak terlalu tinggi, lebih tepat apabila dipanggil sebagai perbukitan. Sebuah sungai melintangi Desa Guo, sehingga dibangun jembatan kecil untuk menghubungkan kedua belah wilayah desa. Kira-kira terdapat sebanyak empat puluh lebih kepala keluarga, dengan separuh dari jumlah itu bermarga Guo, yang kesemuanya tinggal di pusat desa.
(TN: 1 li=500 meter)
Penduduk desa hidup dengan sederhana dan realistis, sehingga sebagian besar keputusan penting ditentukan oleh tetua keluarga Guo. Meskipun sama-sama penduduk desa, saat ada permasalahan, tetua keluarga Guo akan lebih memihak kepada penduduk bermarga Guo. Lokasi terbaik di desa juga diambil oleh marga Guo.
Meskipun demikian, kehidupan di desa terasa damai dan tentram, tidak pernah ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, sehingga semua penduduk merasa puas dengan keadaan yang ada.
Ibu Zhang Xiaohua bernama Guo Sufei dan merupakan anggota marga Guo, namun tidak di anggap secara utuh karena merupakan anak perempuan. Guo Sufei tidak memiliki saudara laki-laki, sehingga ayah dari Guo Sufei, yang bernama Guo San memilih ayah Zhang Xiaohua, Zhang Cai untuk menjadi menantunya dan menikah ke keluarga Guo.
Pepatah berkata, banyak anak banyak rejeki. Sayangnya Guo San tidak memiliki anak laki-laki, dan karena kesialan yang beruntun, rencana untuk mengadopsi anak laki-laki dari saudaranya tidak dapat terlaksana, mengakibatkan kondisi keuangan keluarga yang semakin memburuk. Untungnya Zhang Cai sebagai menantu, tidak mengecewakan harapan Guo San. Setelah masuk ke keluarga Guo, Zhang Cai tidak hanya membantu kondisi keuangan dengan bekerja di lahan, namun juga mengangkat status keluarga ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Setahun berlalu, Guo Sufei pun hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Zhang Xiaolong. Melihat kelahiran cucu laki-laki pertamanya itu, Guo San merasa lega membayangkan masa depan keluarga Guo Sufei. Namun ketika semua berjalan dengan lancar, setahun kemudian, Guo San tiba-tiba jatuh sakit karena terlalu bekerja keras di masa mudanya dan tidak pernah pulih sebelum akhirnya meninggal dunia.
Penyakit untuk sebuah keluarga miskin datang seperti bencana alam yang menghancurkan semuanya. Untuk mengobati ayah mertuanya, Zhang Cai menjual semua barang berharga yang ada di rumah, namun tetap gagal menyelamatkan nyawa Guo San, yang seperti nyala lilin yang bergoyang, hampir padam tertiup hembusan angin. Saat Zhang Xiaolong berumur dua tahun, Guo San meninggal dunia. Setitik kebahagian untuk Zhang Cai hanya menantikan kelahiran anak keduanya. Sebelum meninggal dunia, Guo San memberikan keinginan terakhirnya kepada Zhang Cai untuk memberi nama bagi anak kedua mereka. Jika laki-laki akan diberi nama Zhang Xiaohu dan jika perempuan, Zhang Xiaohua. Setelah Guo San meninggal dunia, kondisi kesehatan ibu mertua Zhang Cai terus memburuk, dan baru membaik ketika Zhang Xaiohu lahir ke dunia, mengakhiri kesialan yang sepertinya terus dialami keluarga Zhang Cai.
Petani mempertaruhkan hidupnya pada lahan yang dapat ia olah. Dibandingkan dengan waktu Kakek Guo dimana terjadi kekurangan tenaga kerja untuk mengelola lahan, lahan yang sekarang dimiliki oleh keluarga Zhang tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena tidak ada jalan lain, Zhang Cai membawa istri dan kedua anaknya menemui tetua desa, yang karena mengingat Kakek Guo, memberikan sebuah lahan kecil di samping sungai untuk mereka kelola.
Zhang Xiaohua lahir ketika kakak tertuanya berumur tujuh tahun. Saat itu, keluarga Zhang memiliki dua setengah orang pencari nafkah, sehingga kondisi keuangan mereka lebih baik dari sebelumnya. Bicara mengenai kelahiran Zhang Xiaohua, terjadi peristiwa yang menarik, hari itu terjadi hujan deras menandai berakhirnya kekeringan panjang selama dua bulan. Hujan lebat itu mengakibatkan sungai yang melewati Desa Guo meluap sehingga jembatan yang menghubungkan desa tidak dapat digunakan. Hal ini membuat penduduk desa yang tinggal di pegunungan merasa takut. Ketika Zhang Xiaohua lahir, Guo Sufei melihat tebaran kelopak bunga memenuhi langit, sontak mengagetkan Zhang Cai, yang kemudian segera memanggil orang bijak desa untuk memberikan nama bagi anaknya. Nama seperti Zhang Wu, Zhang Ning, Zhang Xueyou, dsb. dilontarkan, namun setelah melewati pertimbangan panjang, Guo Sufei teringat akan kelopak bunga yang berterbangan di hari itu dan mendiang ayahnya, sehingga memutuskan untuk memilih nama Zhang Xiaohua.
(TN: xiao=kecil, hua=bunga, xiaohua berarti bunga kecil. Xiaohua adalah nama yang biasanya digunakan untuk anak perempuan. Kakak laki-laki Xiaohua bernama Xiaolong yang berarti naga kecil, dan Xiaohu yang berarti macan kecil, keduanya adalah nama yang biasa digunakan untuk anak laki-laki.)
Xiaohua sekarang berumur dua belas tahun, karena anak di keluarga petani dididik untuk mandiri sejak kecil, Xiaohua turut membantu ayah dan kedua kakaknya untuk mengurus lahan pertanian. Zhang Cai sebenarnya ingin mengirimkan anaknya untuk belajar membaca dan menulis di sekolah, namun karena Desa Guo adalah desa kecil yang mayoritas penduduknya tuna aksara, tidak ada sekolah di sana. Desa tetangga yang lebih makmur memiliki sekolah dan biaya yang dibutuhkan untuk mengirimkan anak dari Desa Guo sangat tinggi. Untuk Xiaolong dan Xiaohu, tidak perlu ada pertimbangan karena memang tidak ada dana untuk mengirimkan mereka ke sekolah. Untuk kasus Xiaohua, dia memang pergi ke sekolah selama beberapa hari, namun menurut guru Xiaohua, potensi Xiaohua untuk menjadi cendikiawan sangatlah kecil dan dia tidak berhasil mengenali lebih dari beberapa kata walaupun sudah berusaha sekuat tenaganya. Setelah pertimbangan lebih lanjut, Zhang Cai melihat mata Xiaohua yang memelas dan alisnya yang tebal, akhirnya memutuskan untuk membuang jauh-jauh harapannya untuk mempunyai orang terpelajar di keluarga Zhang dan membawa pulang Xiaohua kembali ke rumah. Tetapi ibu Xiaohua mengingat kejadian kelopak bunga berjatuhan dari langit, dari waktu ke waktu mengundang penduduk desa yang dapat membaca dan menulis untuk memberikan sedikit pengetahuan bagi Xiaohua. Meskipun Xiaohua lebih menyukai bekerja di ladang bersama kakak-kakaknya, namun di bawah pengawasan ketat ibunya, dia akhirnya mengenali beberapa kata dan berhasil menjadi orang paling terpelajar di keluarga Zhang.
Hari ini adalah hari pertama Xiaohua mulai mengurusi lahannya sendirian. Sebelumnya sang ayah telah memberitahukan bahwa lahan itu adalah milik Xiaohua dan dapat dibilang merupakan sumber pendapatannya kelak. Meskipun lahan itu tidak dapat dikatakan lahan yang cocok untuk ditanami, Xiaohua mengingat perkataan dari orang terpelajar di desa yaitu, “Dengan adanya tujuan, orang dapat memulai. Dengan adanya permulaan, telah tercapai setengah jalan menuju kesuksesan!” dengan kesuksesan, hari dimana Xiaohua mencapai impiannya semakin dekat, yaitu menikmati sepotong daging lezat berbumbu lima rempah setiap hari.
Bulan November menandai datangnya musim dingin; matahari masih muncul di langit, mengirimkan kehangatan untuk menghalau hawa dingin. Angin berhembus dari pegunungan, pertanda akan datangnya musim dingin, namun perhatian Xiaohua berada di tempat lain. Membawa cangkul, Xiaohua mulai bekerja. Pertama dia menggali selokan berbentuk oval dan mulai memindahkan batu serta mencabuti rumput yang ada di dalamnya. Kemudian Xiaohua mulai mencangkul untuk menggemburkan tanah agar dapat ditanami. Bercocok tanam adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu, sehingga saat Xiaohua telah selesai mengerjakan semuanya itu, matahari telah jauh di langit menandakan datangnya siang hari. Xiaohua berhenti bekerja, mengelap keringat di dahinya, dan berjalan ke arah wadah air minum yang disiapkan ibunya, lalu minum teguk demi teguk untuk menghilangkan rasa dahaga yang dialami. Lalu Xiaohua mulai meregangkan tubuhnya hingga ia merasa puas. Meskipun sebelumnya Xiaohua telah memiliki pengalaman dalam bertani, namun ia merupakan anak bungsu, ayah dan kedua kakaknya hanya membiarkan tugas yang paling ringan untuknya. Sekarang Xiaohua menyadari kesulitan dalam bertani, tetapi ketika dia teringat akan nenek, ibu, dan keluarganya, dia berpikir bahwa usahanya tidak akan sia-sia.
Sebelumnya Xiaohua belajar membaca dan menulis dari pemuda di desa. Karena tidak memiliki minat dalam bidang belajar, Xiaohua sering mendengarkan mereka berbicara mengenai impian di masa depan, mengakibatkan Xiaohua melamun dan membayangkan angan-angannya sendiri. Meskipun begitu, setelah dihadapkan dengan kenyataan yang ada, Xiaohua menundukkan kepalanya menatap ke arah tanah dan terbangun dari lamunannya, meningkatkan semangatnya untuk kembali bekerja. Sesaat kemudian, perutnya mulai berbunyi. Di hari sebelumnya, dia biasa menikmati makan siang di rumah bersama ibunya, tapi pagi hari ini sang ibu berkata akan mengirimkan makan siang ke Xiaohua. Melihat waktu, Guo Sufei akan segera datang.
Memang benar, tidak lama kemudian terdengar suara dari lereng bukit, “Xiaohua.. turun dan bantu ibu.”. Untuk mencapai lahan, seseorang harus melewati jalan menanjak yang berliku dan licin. Saat pertama kali dia mengunjungi lahan itu, Xiaohua bahkan terpeleset dan jatuh.
Zhang Xiaohua segera berseru, “Ibu, tunggu sebentar. Xiaohua akan segera turun, jangan naik sendirian.”. Ketika Xiaohua tiba di dasar bukit, ia melihat ibunya membawa keranjang bambu menunggu di tepi jalan. Xiaohua mengambil keranjang, menggandeng tangan ibunya dan membantunya naik menapaki jalan ke atas. Duduk di atas batu, Xiaohua membuka keranjang dan melihat menu makan siangnya hari ini. Di dalam keranjang ada semangkuk daging berbumbu lima rempah dan beberapa potong bakpao polos. Setelah menanyakan kabar pagi hari ibunya, Xiaohua mulai melahap makan siangnya.
Melihat Xiaohua memakan habis makan siang itu, Guo Sufei merasa sedikit bersalah dan berkata, “Makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak, dan minumlah sedikit air.”.
“Ibu, mengapa hari ini membuat daging berbumbu lima rempah?”, tanya Xiaohua.
“Hari ini adalah hari pertamamu bekerja. Kemarin ayahmu telah mengabari ibu untuk menyiapkan makanan untuk merayakannya.”, jawab ibu Xiaohua sambil menatap anak bungsunya dengan penuh kasih. “Kamu telah bekerja keras. Meskipun umurmu baru dua belas tahun, ketika anak lain sedang menimba ilmu di sekolah, kamu sendirian mengolah tanah.”.
“Ibu, bukankah ibu pernah berkata kalau Kakak Xiaolong mulai bekerja saat berumur sepuluh tahun? Xiaohua merasa lebih beruntung. Terlebih lagi Kakak Xiaohu harus berbagi lahan dengan Kakak Xiaolong, sedangkan Xiaohua memiliki lahannya sendiri, Xiaohua merasa sangat senang.”. Melihat ibunya mulai mengomel, dia meneruskan, “Apakah nenek sudah makan dagingnya?”.
“Nenekmu sudah berumur delapan puluh lebih, bagaimana mungkin dia dapat makan makanan keras seperti daging. Ibu telah membuatkan bubur polos untuk nenekmu.”, kata Guo Sufei, “Kamu hanya ingat akan nenekmu setelah selesai makan, padahal sepagian nenekmu terus memikirkanmu..”
Xiaohua mengusap kepalanya merasa malu; sejujurnya ia lupa akan neneknya.
Berbicara mengenai sang nenek, mendung seakan datang menghiasi wajah Guo Sufei. Hari silih berganti, anak-anak mulai tumbuh dewasa, dan kondisi tubuh nenek semakin melemah. Memang umur delapan puluh tahun merupakan usia yang cukup panjang di kalangan petani, tetapi siapa yang tidak ingin berharap untuk hidup lebih lama? Baru-baru ini, nenek mengalami kebutaan, namun beliau tidak mau diajak berobat. Sang nenek berkata bahwa kebutaannya itu karena usia, dan berpesan agar uang tersebut digunakan untuk keperluan lain yang lebih membutuhkan.
Melihat Xiaohua menyelesaikan makan siangnya, Guo Sufei berkata, “Xiaohua, hari ini pulanglah lebih cepat supaya nenekmu bisa melihatmu. Ibu masih perlu mengantarkan makan siang untuk ayah dan kakak-kakakmu.”
Xiaohua terkejut dan membalas, “Ibu, Xiaohua telah menghabiskan semua daging berbumbu lima rempah, lalu apa yang akan ayah dan kakak makan?”
“Tidak apa-apa, masih ada makanan lainnya. Ingat untuk pulang lebih cepat dan jangan sampai jatuh sakit.”, Guo Sufei mengelus-elus kepala Xiaohua sama seperti saat ia masih kecil.
Zhang Xiaohua menuntun ibunya menuruni bukit, melihat punggung ibunya, Xiaohua merasa malu. Bagaimana bisa dia menghabiskan daging berbumbu lima rempah sendirian?
Tiba-tiba sebuah objek berbentuk cincin muncul di langit seperti sihir dengan kecepatan tinggi, jatuh di puncak gunung dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding “wu wu wu”.
Berdasarkan ilmu fisika, ketika sebuah benda jatuh dari langit seharusnya muncul jejak asap diikuti dengan suara yang nyaring, seakan-akan ingin mengabarkan kedatangannya ke dunia.
Namun hal yang aneh terjadi pada benda tersebut, benda itu jatuh dengan suara yang tidak terlalu keras ke dalam tanah. Burung-burung yang sebelumnya terkejut, berputar mengitari puncak gunung itu sebelum akhirnya pergi tanpa jejak setelah tidak terjadi apapun. Tidak seorangpun sadar, tempat itu mendapatkan tambahan benda misterius.
Setelah bertahun-tahun berlalu, lahan kosong mulai dibudidayakan, samudra surut menjadi laut, gunung tempat benda misterius itu terkikis menjadi bukit. Banyak tempat yang sebelumnya terisolasi, berubah menjadi tempat yang cocok untuk ditinggali manusia. Kisah apa yang dibawa oleh cincin misterius ini? Zhang Xiaohua tersenyum dengan riang gembira, seakan mendapatkan rejeki yang jatuh dari langit, memandang lahan pertanian di depan matanya dan menganggapnya sebagai sepotong daging lezat berbumbu lima rempah.
(TN: bumbu lima rempah adalah campuran lima macam bumbu yang sering dipakai pada masakan Cina https://id.wikipedia.org/wiki/Bubuk_lima_rempah)
Sebenarnya lahan pertanian itu lebih cocok apabila disebut sebagai lahan kosong di atas bukit. Dan karena terletak di bukit yang rendah, lereng tempat lahan itu berada tidak curam. Lahan ini adalah hasil jerih payah ayah Zhang Xiaohua selama dua bulan terakhir.
Meskipun masih tersisa banyak lahan di area tempat tinggal Zhang Xiaohua, namun tidak banyak yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. Sehingga semua orang dari desa terus berpikir untuk membuka lahan pertanian baru untuk ditanami padi. Kebanyakan penduduk memilih lahan di sekitar sungai, namun dikarenakan keluarga Zhang Xiaohua terlalu miskin untuk menyogok tetua desa, mereka terpaksa memilih tempat yang lebih jauh.
Desa tempat tinggal Zhang Xiaohua bernama Desa Guo. Dengan luas area sebesar 4 li, diapit oleh pegunungan. Pegunungan itu tidak terlalu tinggi, lebih tepat apabila dipanggil sebagai perbukitan. Sebuah sungai melintangi Desa Guo, sehingga dibangun jembatan kecil untuk menghubungkan kedua belah wilayah desa. Kira-kira terdapat sebanyak empat puluh lebih kepala keluarga, dengan separuh dari jumlah itu bermarga Guo, yang kesemuanya tinggal di pusat desa.
(TN: 1 li=500 meter)
Penduduk desa hidup dengan sederhana dan realistis, sehingga sebagian besar keputusan penting ditentukan oleh tetua keluarga Guo. Meskipun sama-sama penduduk desa, saat ada permasalahan, tetua keluarga Guo akan lebih memihak kepada penduduk bermarga Guo. Lokasi terbaik di desa juga diambil oleh marga Guo.
Meskipun demikian, kehidupan di desa terasa damai dan tentram, tidak pernah ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, sehingga semua penduduk merasa puas dengan keadaan yang ada.
Ibu Zhang Xiaohua bernama Guo Sufei dan merupakan anggota marga Guo, namun tidak di anggap secara utuh karena merupakan anak perempuan. Guo Sufei tidak memiliki saudara laki-laki, sehingga ayah dari Guo Sufei, yang bernama Guo San memilih ayah Zhang Xiaohua, Zhang Cai untuk menjadi menantunya dan menikah ke keluarga Guo.
Pepatah berkata, banyak anak banyak rejeki. Sayangnya Guo San tidak memiliki anak laki-laki, dan karena kesialan yang beruntun, rencana untuk mengadopsi anak laki-laki dari saudaranya tidak dapat terlaksana, mengakibatkan kondisi keuangan keluarga yang semakin memburuk. Untungnya Zhang Cai sebagai menantu, tidak mengecewakan harapan Guo San. Setelah masuk ke keluarga Guo, Zhang Cai tidak hanya membantu kondisi keuangan dengan bekerja di lahan, namun juga mengangkat status keluarga ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Setahun berlalu, Guo Sufei pun hamil dan melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Zhang Xiaolong. Melihat kelahiran cucu laki-laki pertamanya itu, Guo San merasa lega membayangkan masa depan keluarga Guo Sufei. Namun ketika semua berjalan dengan lancar, setahun kemudian, Guo San tiba-tiba jatuh sakit karena terlalu bekerja keras di masa mudanya dan tidak pernah pulih sebelum akhirnya meninggal dunia.
Penyakit untuk sebuah keluarga miskin datang seperti bencana alam yang menghancurkan semuanya. Untuk mengobati ayah mertuanya, Zhang Cai menjual semua barang berharga yang ada di rumah, namun tetap gagal menyelamatkan nyawa Guo San, yang seperti nyala lilin yang bergoyang, hampir padam tertiup hembusan angin. Saat Zhang Xiaolong berumur dua tahun, Guo San meninggal dunia. Setitik kebahagian untuk Zhang Cai hanya menantikan kelahiran anak keduanya. Sebelum meninggal dunia, Guo San memberikan keinginan terakhirnya kepada Zhang Cai untuk memberi nama bagi anak kedua mereka. Jika laki-laki akan diberi nama Zhang Xiaohu dan jika perempuan, Zhang Xiaohua. Setelah Guo San meninggal dunia, kondisi kesehatan ibu mertua Zhang Cai terus memburuk, dan baru membaik ketika Zhang Xaiohu lahir ke dunia, mengakhiri kesialan yang sepertinya terus dialami keluarga Zhang Cai.
Petani mempertaruhkan hidupnya pada lahan yang dapat ia olah. Dibandingkan dengan waktu Kakek Guo dimana terjadi kekurangan tenaga kerja untuk mengelola lahan, lahan yang sekarang dimiliki oleh keluarga Zhang tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena tidak ada jalan lain, Zhang Cai membawa istri dan kedua anaknya menemui tetua desa, yang karena mengingat Kakek Guo, memberikan sebuah lahan kecil di samping sungai untuk mereka kelola.
Zhang Xiaohua lahir ketika kakak tertuanya berumur tujuh tahun. Saat itu, keluarga Zhang memiliki dua setengah orang pencari nafkah, sehingga kondisi keuangan mereka lebih baik dari sebelumnya. Bicara mengenai kelahiran Zhang Xiaohua, terjadi peristiwa yang menarik, hari itu terjadi hujan deras menandai berakhirnya kekeringan panjang selama dua bulan. Hujan lebat itu mengakibatkan sungai yang melewati Desa Guo meluap sehingga jembatan yang menghubungkan desa tidak dapat digunakan. Hal ini membuat penduduk desa yang tinggal di pegunungan merasa takut. Ketika Zhang Xiaohua lahir, Guo Sufei melihat tebaran kelopak bunga memenuhi langit, sontak mengagetkan Zhang Cai, yang kemudian segera memanggil orang bijak desa untuk memberikan nama bagi anaknya. Nama seperti Zhang Wu, Zhang Ning, Zhang Xueyou, dsb. dilontarkan, namun setelah melewati pertimbangan panjang, Guo Sufei teringat akan kelopak bunga yang berterbangan di hari itu dan mendiang ayahnya, sehingga memutuskan untuk memilih nama Zhang Xiaohua.
(TN: xiao=kecil, hua=bunga, xiaohua berarti bunga kecil. Xiaohua adalah nama yang biasanya digunakan untuk anak perempuan. Kakak laki-laki Xiaohua bernama Xiaolong yang berarti naga kecil, dan Xiaohu yang berarti macan kecil, keduanya adalah nama yang biasa digunakan untuk anak laki-laki.)
Xiaohua sekarang berumur dua belas tahun, karena anak di keluarga petani dididik untuk mandiri sejak kecil, Xiaohua turut membantu ayah dan kedua kakaknya untuk mengurus lahan pertanian. Zhang Cai sebenarnya ingin mengirimkan anaknya untuk belajar membaca dan menulis di sekolah, namun karena Desa Guo adalah desa kecil yang mayoritas penduduknya tuna aksara, tidak ada sekolah di sana. Desa tetangga yang lebih makmur memiliki sekolah dan biaya yang dibutuhkan untuk mengirimkan anak dari Desa Guo sangat tinggi. Untuk Xiaolong dan Xiaohu, tidak perlu ada pertimbangan karena memang tidak ada dana untuk mengirimkan mereka ke sekolah. Untuk kasus Xiaohua, dia memang pergi ke sekolah selama beberapa hari, namun menurut guru Xiaohua, potensi Xiaohua untuk menjadi cendikiawan sangatlah kecil dan dia tidak berhasil mengenali lebih dari beberapa kata walaupun sudah berusaha sekuat tenaganya. Setelah pertimbangan lebih lanjut, Zhang Cai melihat mata Xiaohua yang memelas dan alisnya yang tebal, akhirnya memutuskan untuk membuang jauh-jauh harapannya untuk mempunyai orang terpelajar di keluarga Zhang dan membawa pulang Xiaohua kembali ke rumah. Tetapi ibu Xiaohua mengingat kejadian kelopak bunga berjatuhan dari langit, dari waktu ke waktu mengundang penduduk desa yang dapat membaca dan menulis untuk memberikan sedikit pengetahuan bagi Xiaohua. Meskipun Xiaohua lebih menyukai bekerja di ladang bersama kakak-kakaknya, namun di bawah pengawasan ketat ibunya, dia akhirnya mengenali beberapa kata dan berhasil menjadi orang paling terpelajar di keluarga Zhang.
Hari ini adalah hari pertama Xiaohua mulai mengurusi lahannya sendirian. Sebelumnya sang ayah telah memberitahukan bahwa lahan itu adalah milik Xiaohua dan dapat dibilang merupakan sumber pendapatannya kelak. Meskipun lahan itu tidak dapat dikatakan lahan yang cocok untuk ditanami, Xiaohua mengingat perkataan dari orang terpelajar di desa yaitu, “Dengan adanya tujuan, orang dapat memulai. Dengan adanya permulaan, telah tercapai setengah jalan menuju kesuksesan!” dengan kesuksesan, hari dimana Xiaohua mencapai impiannya semakin dekat, yaitu menikmati sepotong daging lezat berbumbu lima rempah setiap hari.
Bulan November menandai datangnya musim dingin; matahari masih muncul di langit, mengirimkan kehangatan untuk menghalau hawa dingin. Angin berhembus dari pegunungan, pertanda akan datangnya musim dingin, namun perhatian Xiaohua berada di tempat lain. Membawa cangkul, Xiaohua mulai bekerja. Pertama dia menggali selokan berbentuk oval dan mulai memindahkan batu serta mencabuti rumput yang ada di dalamnya. Kemudian Xiaohua mulai mencangkul untuk menggemburkan tanah agar dapat ditanami. Bercocok tanam adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu, sehingga saat Xiaohua telah selesai mengerjakan semuanya itu, matahari telah jauh di langit menandakan datangnya siang hari. Xiaohua berhenti bekerja, mengelap keringat di dahinya, dan berjalan ke arah wadah air minum yang disiapkan ibunya, lalu minum teguk demi teguk untuk menghilangkan rasa dahaga yang dialami. Lalu Xiaohua mulai meregangkan tubuhnya hingga ia merasa puas. Meskipun sebelumnya Xiaohua telah memiliki pengalaman dalam bertani, namun ia merupakan anak bungsu, ayah dan kedua kakaknya hanya membiarkan tugas yang paling ringan untuknya. Sekarang Xiaohua menyadari kesulitan dalam bertani, tetapi ketika dia teringat akan nenek, ibu, dan keluarganya, dia berpikir bahwa usahanya tidak akan sia-sia.
Sebelumnya Xiaohua belajar membaca dan menulis dari pemuda di desa. Karena tidak memiliki minat dalam bidang belajar, Xiaohua sering mendengarkan mereka berbicara mengenai impian di masa depan, mengakibatkan Xiaohua melamun dan membayangkan angan-angannya sendiri. Meskipun begitu, setelah dihadapkan dengan kenyataan yang ada, Xiaohua menundukkan kepalanya menatap ke arah tanah dan terbangun dari lamunannya, meningkatkan semangatnya untuk kembali bekerja. Sesaat kemudian, perutnya mulai berbunyi. Di hari sebelumnya, dia biasa menikmati makan siang di rumah bersama ibunya, tapi pagi hari ini sang ibu berkata akan mengirimkan makan siang ke Xiaohua. Melihat waktu, Guo Sufei akan segera datang.
Memang benar, tidak lama kemudian terdengar suara dari lereng bukit, “Xiaohua.. turun dan bantu ibu.”. Untuk mencapai lahan, seseorang harus melewati jalan menanjak yang berliku dan licin. Saat pertama kali dia mengunjungi lahan itu, Xiaohua bahkan terpeleset dan jatuh.
Zhang Xiaohua segera berseru, “Ibu, tunggu sebentar. Xiaohua akan segera turun, jangan naik sendirian.”. Ketika Xiaohua tiba di dasar bukit, ia melihat ibunya membawa keranjang bambu menunggu di tepi jalan. Xiaohua mengambil keranjang, menggandeng tangan ibunya dan membantunya naik menapaki jalan ke atas. Duduk di atas batu, Xiaohua membuka keranjang dan melihat menu makan siangnya hari ini. Di dalam keranjang ada semangkuk daging berbumbu lima rempah dan beberapa potong bakpao polos. Setelah menanyakan kabar pagi hari ibunya, Xiaohua mulai melahap makan siangnya.
Melihat Xiaohua memakan habis makan siang itu, Guo Sufei merasa sedikit bersalah dan berkata, “Makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak, dan minumlah sedikit air.”.
“Ibu, mengapa hari ini membuat daging berbumbu lima rempah?”, tanya Xiaohua.
“Hari ini adalah hari pertamamu bekerja. Kemarin ayahmu telah mengabari ibu untuk menyiapkan makanan untuk merayakannya.”, jawab ibu Xiaohua sambil menatap anak bungsunya dengan penuh kasih. “Kamu telah bekerja keras. Meskipun umurmu baru dua belas tahun, ketika anak lain sedang menimba ilmu di sekolah, kamu sendirian mengolah tanah.”.
“Ibu, bukankah ibu pernah berkata kalau Kakak Xiaolong mulai bekerja saat berumur sepuluh tahun? Xiaohua merasa lebih beruntung. Terlebih lagi Kakak Xiaohu harus berbagi lahan dengan Kakak Xiaolong, sedangkan Xiaohua memiliki lahannya sendiri, Xiaohua merasa sangat senang.”. Melihat ibunya mulai mengomel, dia meneruskan, “Apakah nenek sudah makan dagingnya?”.
“Nenekmu sudah berumur delapan puluh lebih, bagaimana mungkin dia dapat makan makanan keras seperti daging. Ibu telah membuatkan bubur polos untuk nenekmu.”, kata Guo Sufei, “Kamu hanya ingat akan nenekmu setelah selesai makan, padahal sepagian nenekmu terus memikirkanmu..”
Xiaohua mengusap kepalanya merasa malu; sejujurnya ia lupa akan neneknya.
Berbicara mengenai sang nenek, mendung seakan datang menghiasi wajah Guo Sufei. Hari silih berganti, anak-anak mulai tumbuh dewasa, dan kondisi tubuh nenek semakin melemah. Memang umur delapan puluh tahun merupakan usia yang cukup panjang di kalangan petani, tetapi siapa yang tidak ingin berharap untuk hidup lebih lama? Baru-baru ini, nenek mengalami kebutaan, namun beliau tidak mau diajak berobat. Sang nenek berkata bahwa kebutaannya itu karena usia, dan berpesan agar uang tersebut digunakan untuk keperluan lain yang lebih membutuhkan.
Melihat Xiaohua menyelesaikan makan siangnya, Guo Sufei berkata, “Xiaohua, hari ini pulanglah lebih cepat supaya nenekmu bisa melihatmu. Ibu masih perlu mengantarkan makan siang untuk ayah dan kakak-kakakmu.”
Xiaohua terkejut dan membalas, “Ibu, Xiaohua telah menghabiskan semua daging berbumbu lima rempah, lalu apa yang akan ayah dan kakak makan?”
“Tidak apa-apa, masih ada makanan lainnya. Ingat untuk pulang lebih cepat dan jangan sampai jatuh sakit.”, Guo Sufei mengelus-elus kepala Xiaohua sama seperti saat ia masih kecil.
Zhang Xiaohua menuntun ibunya menuruni bukit, melihat punggung ibunya, Xiaohua merasa malu. Bagaimana bisa dia menghabiskan daging berbumbu lima rempah sendirian?
Sumber
Bab Sebelumnya | Daftar Isi | Bab Selanjutnya

Komentar
Posting Komentar